Memperkosa Bi Inah yang Sudah Kuanggap Ibu Sendiri – PART 2

Memperkosa Bi Inah yang Sudah Kuanggap Ibu Sendiri – PART 2

Pasca aku memperkosa Bi Inah beberapa hari lalu… Bibi langsung mengemas kopernya dan pergi meniggalkan rumah. Aku berusaha mencegahnya dan bersimpuh di kakinya memohon ampun. Aku hanya mendengar isak tangisnya. Tapi permohonan maafku tak dapat mencegah langkah kakinya.

Ada rasa penyesalan di dada, tapi aku tidak dapat memikirkan bibi, tiap kali aku melihat istriku bermesraan dengan putraku.

Tiap kali aku bercinta dengan istirku, ia selalu menyuruhku terus mebayangkan ibuku. Tentu saja hanya bayang-bayang wajah bi Inah yang terbersit di kepalaku. Sebab hubungan emosional ibu dan anak hanyak kumiliki dengan beliau. Itu yang tak diketahui istriku.

Hal inilah yang kemudian membuatku memutuskan untuk mencari Bi Inah 3 bulan kemudian. Entah apa yang kuharapkan. Pemberian maafkah… agar aku bisa terbebas dari perasaan bersalah…

Akhirnya setelah mencari tahu lewat beberapa temannya, aku mendapatkan alamatnya di desa di Jawa Tengah. Dengan kereta api aku menuju ke sana.

Tempatnya masih banyak pepohonan nan rimbun. Sebenarnya sangat menyenangkan di sini.

Langkah kakiku membawaku ke sebuah rumah sederhana.

Kuketuk pintunya yang terbuat dari kayu.

Tok tok tok

Sesosok wajah tua keluar. “Siapa?”

“Saya Andi pak.. Bi Inah ada?”
“Bi Inah..siapa?”
“Aduh si bapak… Inah pak anak kita…,” dari dalam terdengar suara wanita tua menyusul, “Ya siapa?”

Seorang wanita tua muncul keluar menyambutku.

Sambil tersenyum aku menjawab, “Andi bu…”

“oo mas Andi majikannya Inah ya… sebentar ya.. ibu panggilin…

Ibunya bi Inah pun masuk ke dalam memanggil anaknya.

Tak lama kemudian muncul bi Inah dengan wajah penuh kewaspadaan.

“Ada apa, den?

“Bi… anu… bisa bicara berdua…”

Bi Inah berbisik kepada kedua orang tuanya untuk memberikan privasi.

Ketika keduanya masuk, Bi Inah mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu.

Tapi aku langsung bersujud dan mencium kakinya.

“Bi.. .maafin Andi…”

“Den.. ehh.. apa-apaan ini…”

“Maafin Andi…”

“Eh Den dah ah berdiri..” kata Bi Inah sambil mengangkatku naik.

Terdengar langkah mendekat. Ternyata Ibu bi Inah membawakan teh manis untukku.

“INi mas… kami tidak punya apa-apa hanya bisa kasih teh manis..”
“I..iya bu…terima kasih,” jawabku gugup.

“Silahkan loh mas… ”

“Iya bu”

Ibu Bi Inah kembali masuk.

“Duduk den…”

“Iya Bi…”

Setelah kami duduk ,suasana menjadi canggung. Sekitar 5 menit kami terdiam sebelum bibi memecah kehiningan.

“Kenapa kamu lakukan itu?”

Aku bingung bagiamana menjawab pertanyaan bibi.

“Andi…”

“Kamu keterlaluan Andi.. bi Inah dah anggap kamu anak bibi sendiri…,” ucapnya dnegan nda marah.
“Maaf Bi…”

“Yang kamu laukan itu benar-benar sudah kelewat batas!” tambahnya dengan nada sedih tertahan, tapi matanya berkaca-kaca.

Aku hanya bisa diam. Kami pun terdiam lagi.

“Bibi hamil Ndi….”

Aku terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bi Inah.

“Nanti gimana… orang-orang akan melihat bibi bunting tanpa suami… bibi malu…sedangkan kamu… gak mungkin kan mau nikahin bibi…?”

“Ya… gak mungkin.. bi…”

Bi Inah memukul kedua pahanya dengan gemas, “tanggung jawab, Ndi… bibi malu…”
“Tapi…”

“Kalau kamu tidak mau tanggung jawab… Bibi akan lapor polisi!”

“Bi…. jangan…”

Alis bi Inah merengut, ia menangis. “Sudahlah… kalau kamu tidak mau… keluar saja.. tidak ada gunanya kamu disini…lupakan semua tentang bibi.”

“BI…”

“Pergi!” teriak bibi tertahan.

Hatiku sangat sedih diusir oleh orang yang telah merwatku sejak kecil. Apa boleh buat… aku sudah tidak diteirma lagi…

“Baiklah bi.. Andai pergi….”

Aku pun beranjak dari bangku dan menuju pintu keluar.

Sekonyong-konyong bibi meraih lengan kiriku dan menarikku.

“Jangan pergi Ndi…”

Aku berbalik dan merasa lega ia tidak jadi mengusirku.

“Plis nikahi bibi… setidkanya demi status saja….”

“Bi…”

“Kamu tidka perlu urus bibi… bibi akan urus diri sendiri… tapi bibi perlu suami…”

“Bi…”

Bibi terdiam…

“Apakah ada sesuatu yang kamu inginkan dari bibi…?’

Bibi menatapku.. tiba-tiba tangannya mengelus penisku dari luar celana.

“Bi.. tidak bi.. ahh.. A..Andi sudah anggap bibi ibu Andi sendiri…

“Ya …tapi itu tidak mencegah kamu memperkosa bibi kan…”

Bi Inah terus mengelus-elus batangku dengan bagian bawah jemarinya.

“Kalau bibi jadi istrimu… kamu tidak perlu maksa seperti itu lagi…”

Bi Inah melangkah mendekat hingga Buah dadanya yang besar tertutup jilbab lebar menekan dadaku, mendorongku hingga punggungku menempel ke pintu di belakangku. .

Ia menurunkan resletingku dan tangannya menyelusup masuk ke dalam CD ku. Kulitku penisku pun bersentuhan dengan kulit tangannya.

“Bi ahh… bibi… ahh ah…”

B inah2

Rasanya sungugh tak karuan..

“Jangan bi… Andi… sudah anggap bibi ibu Andi sendiri…”

“Ndi.. jangan sia-siakan bibi.. bibi sudah buang harga diri bibi dengan melakukan ini…”

“Bi ada orang loh di rumah…”
“Tidak mereka sudah pergi ke sawah…”

Bi Inah menarik penisku keluar dari sarangnya hingga melwati resleting celanaku. Ia kocok-kocok batangku perlahan.

“Ahhh.. Berlutut bi…”

Bibi pun menurut. Aku pegang kepalanya yang berjilbab dan aku masukkan penisku ke dalam mulutnya dan kukeluar masukkan”

“Bi.. ah ahh. ahh..ah…”

Fantasiku saat aku bersama-sama istriku seolah terbayarkan hari ini….

setelah 5 menti meikmati mulutnya, Aku menidurkannya di lantai… aku sibak gamis… dan aku tancapkan adikku ke dalam lubang senggamnaya. Lalu aku genjot tubuh bibiku. Suara lenguhan kamu bersahut-sahutan…

“ahh ah ahh ah ah”

Bibir kami berpagutan…. Tanganku masuk ke bahwa jilbab yang menutupi dadanya dan meremas-remas dadanya yang sebesar melon dari luar gamis.

“Ibu… ah  ibu….,” desahku.

Bibi memeluk kepalaku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku, “Inikah yang sesungguhnya kamu inginkan, Ndi… bercinta dengan orang yang kau anggap ibumu sendiri……?”

Aku mengangguk.

“Bibi bisa berikan itu.. nikahi bibi, nak…”

Aku mengangguk. “Iya bi… Andi akan cari jalan…”

Setelah itu aku duduk bersimpuh. Kubuka lebar kedua kaki Bi Inah, dengan degna cepat aku goyangkan pinggulku. Wanita yang telah merawatku ini tampak pasrah. Alisnya merengut menahan kenikmatan.  Penisku keluar masuk membelah lubang kemaluannya.

Tekanan semakin kurasakan di pangkal penisku, tak dapat kutahan lagi. Akhirnya Spermaku menyembur seperti gunung meletus.

“IBU….aaaaaahhhh…”
“Anakku.. oh gusti……”

Aku mengerang sejadi-jadinya melepaskan tembakan-tembakan memenuhi lubang senggama wanita yang kuhormati ini.

Aku jatuh terduduk ke belakang. Penisku tercabut dari lubang Bi Inah, berbalut sperma kami berdua. Cairan putih mengalir keluar dari kemaluannya,

Bi Inah menutup mukanya. Mungkin ia merasa menyesal hal semacam ini terjadi lagi.

“Bi…kenapaa..?”
Bi Inah hanya menggeleng sambil terdengar isak tangis dari balik tutupan telapak tangannya.

Aku dekati dia dan duduk di sampingnya. Kubantu ia untuk duduk sjejar denganku. Ia langsung memelukku dan menangis di dadaku.

“Janji ya Ndi… nikahi bibi….,” ucapnya sesegukan.
Aku mengusap kepalanya dan berkata, “Bisa bi… selama kita bisa sperti ibu dan anak…”

Bi Inah mengadah ke atas dengan mata berkaca-kaca, “Bisa nak…bisa…”

Alku mendekati wajahnya, dan menicum bibirnya, seraya tanganku mengambil tepian gamisnya yang terangkat sudah hingga ke perut. Kudorong naik ke atas hingga meyibak bagian paudaranya. Lalu kuremas-remas dadan kirinya sambil memperhatikan tetenya yang sangat besar.

“Ibu…mmm…”
“Iya nak.. remas dada ibu.. kamu anak yang baik.”
Kami berpagutan dan saling menauktan lidah.

Setelah itu.

“Berishin Penis Andi pakai mulut ibu…”
“iya…”

Bi Inah pun menjilati batang penisku seperti induk yang memandikan anak kucing.

Leave a Comment