Memperkosa Bi Inah yang Sudah Kuanggap Ibu Sendiri

Memperkosa Bi Inah yang Sudah Kuanggap Ibu Sendiri

Namaku Andi. Usiaku 35 tahun. Aku sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak, Boy dan Mona. Usia istriku dan diriku terpaut 5 tahun.

Untuk urusan sehari-hari di rumahku ada Bi Inah. Ia seorang wanita paruh baya yang merawatku sejak kecil.

Aku tidak memiliki ibu kandungku yang perhatian denganku. Ia sibuk dengan bisnisnya hampir-hampr tak ada waktu untukku. Sosok ibu tergantikan oleh bi Inah. Ia yang memarahiku dan menasehatiku kala aku berantem di sekolah. Ia pula yang mearawatku ketika aku jatuh sakit. Dengan setia ia menugguiku, mengantarkan ku  ke dokter, dan menyiapkan segala keperluanku. Ketika aku tidak bisa mengerjakan tugas-tugas sekolah, ia dengan sabar mengajariku sebatas kemapuannya. Sebab memang bi Inah hanya lulusan SD.

Demikianlah dengan segala perhatiannya betapa Bi Inah benar-benar sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.

Saat aku menikah, ia ikut dengan aku. Usianya kini sudah 55 tahun.

Suaut hari aku dan istriku bercinta di kamar. Setelah anuku dipegang-pegang, dan kami berciuman, istriku berkata “Pah.. aku ada DVD bagus.”
“Apa mah?”
Istriku lalu berjalan dan mengambil sesuatu dari tasnya dilantai. Kemudian ia memasukkan DVD ke DVD player set yang ada di depan tempat tidur kami. Tak lama kemudian sebuah tayangan pun muncul di TV flat screen besar kami.
“Selagi intro sini mama isepin titit papah..” ucap istriku.
“Ohoho ya.. baiklah mah.. papah pasrah..” kataku menggoda.
Istriku menghampiriku seperti seekor kucing, mendekatiku dan sambil bersimpuh ia mulai mengulum batangku.

Tak lama film mulai masuk. Sebuah keluarga tampak sedang makan malam di meja. Saat sedang bersantap si anak laki-laki tiba-tiba merba kaki ibunya dan perlahan menyentuh dan menggesek kemaluannya.

Aku kaget. “Sayang.. ini film apa?”
Istriku berhenti mengulum dan gantina mengocok…
“Kenapa sayang kamu tanya?”
“Kok kayak gini sih filmnya…”
“Emang kenapa?”
“Masak anak laki-lakinya gituin ibunya…?”
“Katanya anak cowok suka punya fantasi gitu yah? bener gak?”
“Mana aku tahu?”
“Mas punya gak?” tanya istriku dengan nada nakal.
“GAK LAH”
“Masa sih..? Jujur aja mas… aku gak marah kok…”
Istriku duduk di sampingku sambil terus mengocokku.
“Bayangin aja… gak apa-apa…,” bisiknya halus di telingaku.

Nikmatnya kocokan istriku dan bujukkanku membuatku terbawa ke dalam alam imajinasiku. Samar-samar bayangan bi Inah yang sedang bercocok tanam di taman muncul. Lalu ia menoleh dan tersenyum kepadaku. “Sudah pulang?” katanyanya.
Tiba-tiba aku langsung membalikkan badannya dan mendorongnya ke atas rumput. Aku sibak roknya hingga daerah kewanitaan dan pahanya terlihat. Aku tarik ke bawah celana dalamnya dan ia berusaha menahannya.

Akibat saling tarik, CDnya sobek, dan kemaluannya tidak ada lagi yang menjaganya. Aku buka celana dan keluarkan batangku. Aku langsung menerobos vaginanya.
“Oh nak… ough… kenapa baru sekarang…,” lenguhnya dalam kepalaku.

Sementara itu istriku berkomentar… “Iii mas… kok basah banget tititnya gak kayak biasanya…”
Padahal aku belum sampai puncak orgasme.

Aku menoleh kepada istriku. Ia terdiam, mungkin pandanganku agak berubah dari biasanya. Dengan cepat aku tndih istriku. Penisku menerobos miss Vnya dan memompanya dengan ganas.

“Ah ah ah… Andi sayang kamu gak pernah seperti ini…?”

Tubuh istriku mungkin seperti sedang dilanda gempa bumi. Begoyang-goyang mengikuti hentakan-hentakan kuat ke kemaluannya.
Penisku pun rasanya… beda dari yang biasanya.

Istriku hanya menjerit-jerit tidak berdaya menolak kekasaraku kepada dirinya.

Tak lama aku merasa ingin keluar. Aku kankangi wajah istriku dan kuarahkan penisku ke dalam mulutnya. Kemudian aku tekan peniku hingga masuk ke dalam kerongokannya.
Crot crot crot crot air maniku menyemprot langusng di dalam leher istriku.
Aku tindih kedua tangannya dengan kaki sehingga ia tak dapat mencabut penisku dari mulutnya.
Ia mengernyit seolah memintaku untuk segera mencabutnya.
Setelah habis orgasme.. aku langsung tarik kembali.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” istriku terbatuk-batuk…,”Gilah ah kamu sayang… aku digituin…” katanya cemberut.

Sejak hari itulah.. aku jadi suka terbayang-bayang Bi Inah.
Saat bertemu dengannya di rumah, pikiran-pikiran kotor pun sering berkelabat.
Misalnya ketika sedang mengepel dan dia menungging… rasanya ingin aku tahan pinggulnya , sibak gamisnya dan entotin beliau.

Atau saat sedang menyuguhkan aku teh dan kue di ruang tamu. Rasana ingin aku tarik ke sofa dan aku masukin penisku ke mulutnya.

Situasi pun makin tidak terkendali ,ketiak suatu hari aku memergoki istriku berselingkuh. Parahnya ia melakukannya dengan putera kami yang baru berusia 10 thn. Di dalam kamar anakku tangannya terlihat masuk ke dalam celana dari putra kami dan memainkan alat vitalnya.

Istriku duduk di pinggir tempat tidur tanpa celana. Tidak juga CD. Ia hanya mengenakan T shirt V neck yang sudah melorot hingga buah dadanya menyembul keluar. Anakku yang bertelanjang dada, menyenderkan punggungnya ke tubuh mamanya.Raut wajahnya tampak tegang. Mungkin karena ini adalah pengalaman pertamanya.

“Jagan ditahan ya nak… kalau kerasa mau kencing… keluarain aja…”
“Nanti basah donk ma…”
“Gak apa-apa….”
“MMhhh….Maa…”
“Ya..?”
“Enak…Boy cinta mama…”
Istriku tersenyum, “Mama juga cinta boy… makanya mama mau telanjang seperti ini dan bikin boy enak…”

“Iya… enak banget ma…nghh…ahh.. ahh…”

istriku mengecup pipi Boy.

“BOy bantu mama supaya juga enak kayak Boy ya…”
“Gimana caranya?”

Bi inah1

“Keluar masukin jarinya disini…”
Istriku membimbing tangan anakku ke lubannya dan memintanya mengeluarmemasukkan jarinya.

“Ngghhh Boy …mama tambah horni…buka ya celananya. Mama ingin lihat Boy telanjang”
“Iya maah…ahh…ahhh…”
Istriku menggigit bibirnya sambil melorotkan celana anaknya sendiri.

“jangn bilang siapa-siapa ya… kita beginian,” kata istriku seraya melumat bibir Boy seolah hendak mengunci rahasia mereka berdua.

Aku cemburu, marah, tapi juga terangsang. Buru-buru aku ke belakang untuk mencari bi Inah.
“BIiii! BIi!”
“Iya Ndi?” sahutnya sambil datang tergopoh-gopoh.
“Bi tadi ada kucing masuk kamar bibi tuh… dikeluarin”
“Oh masak sih… kucing dari mana?”

Bi Inah masuk ke kamarnya dan aku mengikutinya. Ia melihat sekeliling, tapi tak melihat seekor pun.
“Mungkin di bawah ranjang.”

Bi Inah pun berjongkok dan memasukkan kepalanya ke kolong dan ia menungging.Di saat itulah aku membuka celanaku dan dengan cepat menyibak gamisnya. Bi Inah kaget, tapi aku tahan tubuhnya sedemikian rupa, sehingga kepalanya tidak bisa keluar dari kolong.

“Ndi..loh ada apa ini…?”

Tanpa banyak omong aku turunkan CDnya dan blessss… aku tidak bisa melukiskan rasanya saat penisku masuk ke dalam vaginanya, daerah privat dari wanita yan gsudah kuanggap sebagai ibuku sendiri.

“Jangan NDI! NDI! JANGAN!” teriak bi Inah.

Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Hanya ada satu di kepalaku. Aku harus menuntaskan semua ini.

Aku goyang terus pinggulku hingga batangku keluar masuk di lubang bi Inah.

“TOLONG!! JANGAN!! TOLONG!”” pekiknya dengan susah payah.

“Ada apa BI!?” Tiba -tiba terdengar suara istriku mendekat.
Ketika di depan pintu istriku terdiam dan hanya menutup mulutnya. Aku juga tidak tahu harus bersikap apa. Aku teruskan saja menggenjot bi Inah.

Hingga akhirnya aku mencapai klimaks. Semua spermaku keluar di dalam vaginanya.

Mataku nanar.

Dengan sempoyangan aku mencabut penisku dan berdiri. Bi Inah naik ke atas tempat tidur menangis sambil menutupi mukanya dengan bantal.

Istriku berdiri di depan pintu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Aku buru-buru keluar kamar dan pergi ke kamarku.

Di kamarku aku duduk di kursi sambil menutpi kedua wajahku. Aku merasa menyesal telah melakukan itu kepada bi Inah. Tetapi aku tidak berani mengahadapi dirinya saat ini.

Leave a Comment